Tampilkan postingan dengan label About Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Birrul Walidam (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)

Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)
Pengarang   : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
 
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas telah menuliskan sebuah buku dengan topik
yang sangat perlu untuk diketahui oleh kaum muslimin, yaitu tentang berbakti
kepada kedua orang tua. Buku ini menjelaskan tentang banyak hal berkaitan
dengan berbakti kepada kedua orang tua. Diantaranya yang dibahas adalah, apa
yang dimaksud dengan berbuat baik dan durhaka, bentuk bentuk berbuat baik
dan juga bentuk bentuk perilaku durhaka kepada kedua orang tua, ganjaran
yang akan diperoleh bila berbuat baik kepada kedua orang tua, dan juga
ganjaran yang diperoleh bila durhaka kepada keduanya, dll. Termasuk juga
batasan batasan dalam taat kepada orang tua.
 
Berikut ini sebagian yang bisa saya kutip dari buku tersebut. Dengan
meringkasnya.
 
 
[PENGERTIAN BERBUAT BAIK DAN DURHAKA]
-------------------------------------
Yang dimaksud dengan ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua
orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita
dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu
Athiyyah, kita wajib mentaati keduanya dalam hal hal yang mubah, harus
mengikuti apa apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa apa yang
dilarang.
 
'Uquq secara bahasa artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong
kambing). Sedangkan makna 'uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan
seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun
perbuatan.
 
 
[AYAT AYAT YANG MEWAJIBKAN UNTUK BERBAKTI
DAN MENGHARAMKAN DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA]
------------------------------------------------
QS. Al Israa' : 23-24
 
"Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah
melainkan hanya kepada Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua
dengan sebaik baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua duanya
telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah'
dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya
perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh
kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabbku sayangilah keduanya sebagaimana
keduanya menyayangiku di waktu kecil." (QS. Al Israa' : 23-24).
 
 
QS. An Nisa : 36
QS. Lukman : 14-15
 
 
[BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MERUPAKAN
SIFAT YANG MENONJOL DARI PARA NABI]
------------------------------------------
Ust. Yazid mengangkat kisah kisah dari Al Qur'an tentang para Nabi.
Diantaranya
Nabi Isa bin Maryam dalam QS. Maryam 30-32
Nabi Ibrahim dalam QS. Ibrahim 40-41
Nabi Nuh 'alaihissalam dalam QS. Nuh 28
Nabi Yahya 'alaihissalam dalam QS. Maryam 14-15
Nabi Sulaiman 'alaihissalam dalam QS. An Naml 19
 
 
[KEUTAMAAN DAN GANJARAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA]
--------------------------------------------------------
Pertama,
Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama.
 
Kedua,
Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua.
 
Ketiga,
Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang
dialami yaitu dengan cara ber-tawassul dengan amal shalih tersebut. (Lihat
hadits riwayat Bukhari no. 2272)
 
Keempat,
Berbakti kepada kedua orang tua dapat meluaskan rizki dan memanjangkan umur.
 
"Barang siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari no. 5986)
 
Berkata Ust. Yazid,
"Sesungguhnya Al Qur'an dan Sunnah menganjurkan kita untuk menyambung
silaturahmi, dan dalam hal ini yang didahulukan adalah bersilaturahmi kepada
kedua orang tua, sebelum kepada kerabat yang lainnya." (hal. 38).
 
Kelima,
Berbakti kepada kedua orang tua dapat memasukkan seorang anak ke dalam
surga.
 
 
[BENTUK BENTUK BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA]
-----------------------------------------------
Pertama,
Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik.
 
Kedua,
Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut.
 
Ketiga,
Tawadhu (rendah diri).
 
Keempat,
Memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua.
 
Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada
orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan... Harus
dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki laki
adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul
Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah
kepada Allah dan Rasul Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami
akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi
kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat kebaikan
lainnya kepada orang tuanya. (hal. 62-63).
 
Kelima,
Mendoakan kedua orang tua.
 
Ust. Yazid menjelaskan amal amal yang bisa dilakukan anak bila orang tua
telah wafat antara lain:
1. Mendoakannya
2. Menshalatkan ketika orang tua meninggal
3. Selalu memintakan ampun untuk keduanya
4. Membayarkan hutang hutangnya
5. Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari'at
6. Menyambung tali silaturahmi kepada orang yang keduanya juga pernah
menyambungnya.
 
"Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturahmi
kepada teman teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal." (HR. Muslim no.
2552)
 
 
[HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA]
-----------------------------------------
Diantara bentuk bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan)
ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata 'ah' dan tidak memenuhi panggilan orang tua
3. Membentak atau menghardik orang tua
4. Melaknak dan mencaci kedua orang tua
5. Bakhil (pelit) tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan
yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat
membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh
perhitungan.
6. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua,
mengatakan bodoh, kolot, dll
7. Menyuruh orang tua
8. Menyebutkan kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan
nama baik orang tua
9. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat musik, menghisap
rokok, dll.
10. Mendahulukan taat kepada istri daripada orang tua. Bahkan ada sebagian
orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya,
na'udzubillah.
11. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan
orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak
diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan
termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
 
Sebab sebab anak durhaka kepada orang tua adalah :
1. Karena kebodohan
2. Jeleknya pendidikan orang tua dalam mendidik anak
3. Paradok, orang tua menyuruh anak berbuat baik tapi orang tua tidak
berbuat
4. Bapak dan ibunya dahulu pernah durhaka kepada orang tua sehingga dibalas
oleh anaknya
5. Orang tua tidak membantu anak dalam berbuat kebajikan
6. Jeleknya akhlak istri
 
 
[PERSONAL VIEW]
Saya yakin setiap orang perlu mengetahui masalah birrul walidain.
Alhamdulillah dengan buku yang ditulis oleh Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas ini
menjadi jelas bagi kita bagaimana berbuat baik kepada kedua orang tua.
Karena memang berbuat baik kepada orang tua itu perlu ilmu, yaitu mengetahui
bagaimana berbuat baik sesuai yang dikehendaki oleh Al Qur'an dan Sunnah.
Saya tidak ingin banyak berkata kata, pada bagian akhir ini saya bawakan
perkataan Fudhail bin Iyadh sebagaimana Ust. Yazid membawakannya di bagian
penutup buku tersebut. Baiknya pembaca catat juga dengan tinta emas.
 
Berkata Fudhail bin Iyadh ketika ditanya tentang bentuk berbakti kepada
kedua orang tua,
 
"Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan malas."
 
 
 
 
Demikian, semoga Allah menjadikan bermanfaat ringkasan buku yang saya buat
ini sebagai amal yang tiada putus. Amiin.
 
Wassalamua'alikum
 
Irawan Adji
Tangerang

Kamis, 22 Desember 2011

7 Rahasia tetap awet muda

7 Rahasia Tetap Awet Muda    
 
Banyak orang yang mengeluhkan keadaan kulit dan wajah mereka yang tampak lebih tua daripada umur sebenarnya. Untuk mengatasi masalah ini, ada 7 rahasia agar Anda tetap tampak awet muda:
1.Selalu merasa bahagia
Merasa bahagia adalah salah satu kunci utama agar tetap ter
lihat awet muda. Dalam setiap kegiatan, usahakan agar apa yang Anda lakukan sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Hindari stres, perasaan bersalah dan tertekan karena paksaan orang lain. Ingat, apa yang Anda rasakan akan tercermin pada wajah Anda. Jadi, orang yang sedang bahagia, wajahnya akan terlihat berseri-seri, santai dan lebih muda daripada usia sebenarnya.
2.Banyak bergerak
Berolahraga adalah cara agar awet muda. Lakukan joging, jalan cepat, bersepeda maupun berenang sekitar 30 menit setiap hari. Dengan olahraga, risiko terkena serangan jantung, osteoporosis, dan kanker pun akan mengecil. Olahraga teratur dapat menambah fleksibilitas otot, memperkuat tulang, serta mengurangi stres, karena sel-sel tubuh mendapat lebih banyak oksigen. Tidur Anda pun akan nyenyak.
3.Konsumsi vitamin C
Vitamin C bisa Anda peroleh dari buah-buahan segar (terutama jeruk), sayur-mayur berwarna hijau (brokoli dan lain-lain) atau suplemen vitamin C sebanyak 1000 mg perhari. Vitamin C terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi risiko terkena kanker dan melindungi tubuh dari efek yang ditimbulkan oleh polusi. Di samping itu, perbanyak minum air putih. Meminum air putih 8 gelas per hari akan mengurangi stres, menjaga kesegaran kulit, serta memperlancar kerja organ tubuh.
4.Gunakan pelindung UV
Matahari adalah salah satu faktor utama penyebab penuaan dini. Oleh karena itu, gunakan selalu lotion pelembab secara teratur setiap hari, khususnya bila akan bepergian, agar kulit tetap segar, lembab dan tidak terbakar sinar matahari, terutama sinar ultra violet (UV).
5.Istirahat cukup
Manusia butuh sekurang-kurangnya 8 jam setiap hari untuk tidur. Istirahat cukup bermanfaat untuk menghindari terbentuknya kantung mata, kulit keriput dan wajah kusam.
6.Perhatikan penampilan
Penampilan dan tata rias wajah juga memegang peranan penting. Meski usia terus bertambah, tetap perhatikan jenis kosmetik yang Anda pakai. Gunakan make-up tipis untuk kesan natural dengan tetap memperhatikan kondisi dan jenis kulit Anda.
7.Optimis
Orang yang pesimis selalu tidak percaya diri, gampang putus asa, dan tak pernah memperhatikan penampilan, yang bisa berakibat depresi. Jadi, berusahalah menjadi orang yang optimis dalam segala hal, sebab ini akan membuat hidup Anda akan lebih sehat dan bahagia. (Tabloid Nova)
 

4 perkara sebelum tidur


4 PERKARA SEBELUM TIDUR


> ( Tafsir Haqqi )
>
> Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : >  “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
>
1.    Sebelum khatam Al Qur’an,
2.    Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3.    Sebelum para muslim meridloi kamu,
4.    Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh....
>
> “Bertanya Aisyah :
> “Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara > seketika?”
>
> Rasul tersenyum dan bersabda : > “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau > mengkhatamkan Al Qur’an.
>
> Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan
> memberi syafaat di hari kiamat.
>
> Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.
>
> Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
> seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”

Sekian untuk ingatan kita bersama.

* Kalau rajin..Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Muslim yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.

Senin, 19 Desember 2011

Islam dan fanatisme kesukuan

ISLAM & FANATISME KESUKUAN
Islam datang ke muka bumi ini dengan ajaran-ajaran Alah swt. yang membimbing manusia seluruhnya kepada kehidupan yang ideal, yaitu kehidupan yang paling sempurna, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia di muka bumi ini, baik dalam bidang akidah, ibadah, maupun dalam kehidupan sosial, demi kebahagiaan manusia itu sendiri di dunia dan di akhirat.

Ketika agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Saw. untuk pertama kalinya datang di Makkah, jazirah Arab, pada abad VI M, banyak aspek kehidupan masyarakat Arab yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, pembawa rahmatan lil ‘alamin itu. Aspek-aspek tersebut antara lain adalah faham syirik dalam bidang akidah dan ibadah, pandangan hidup yang materialistis, perbudakan, dan fanatisme kelompok dalam bidang sosial.

Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw.  telah berhasil menumpas penyakit-penyakit syirik, pandangan hidup materialistik, perbudakan, dan fanatisme kesukuan, serta penyakit-penyakit kemasyarakatan lainnya dalam waktu yang relatif singkat, berkat dakwahnya yang berlandaskan tauhid dan keteladanan akhlaqul karimah.

Penyakit sosial berupa fanatisme kelompok, yang dalam bahasa Arabnya dikenal dengan istilah ’ashabiyyah jahiliyyah akhir-akhir ini kembali muncul dan memerlukan penanganan serius dari semua pihak. Fanatisme kesukuan ditandai oleh tiga hal, yaitu: Pertama, seseorang merasa berkewajiban untuk membela warga kelompoknya, sekalipun warga yang bersangkutan berada di pihak yang salah; Kedua, warga yang bersangkutan merasa berhak mendapat bantuan dari warga yang lain, walaupun ia telah melakukan hal yang bertentangan dengan kebenaran dan rasa keadilan; Ketiga, seseorang merasa berkewajiban menolong sesama anggota kelompoknya yang sedang mengalami kesulitan atau menghadapi suatu masalah, dengan cara apapun, sekalipun cara yang ditempuhnya bertentangan dengan peraturan dan hukum yang berlaku (illegal). Bahkan, ‘ashabiyyah pada zaman jahiliyyah dahulu seringkali membuat seseorang merasa bangga yang berlebihan dengan kelompoknya, sehingga memandang rendah kelompok yang lain.

Rasulullah Saw. melihat bahwa ‘ashabiyyah jahiliyyah atau fanatisme kelompok telah membawa akibat yang buruk dan kerugian yang besar bagi masyarakat luas. Karena itu, beliau sejak awal berteguh hati untuk memberantasnya, sebagaimana sabdanya:
 “Buanglah jauh-jauh fanatisme jahiliyyah”.

 “Orang yang suka menghembus-hembuskan fanatisme jahiliyyah bukanlah dari golongan kita (kaum muslimin)”.

Fanatisme kelompok dalam sejarahnya ternyata telah mendatangkan banyak bencana dan kerugian moral maupun material di kalangan warga masyarakat jazirah Arab, yang ketika itu memang teridiri dari banyak kabilah atau suku. Kerugian-kerugian tersebut antara lain:
Pertama, telah banyak menimbulkan pertentangan, pertengkaran, dan bentrokan fisik antar kelompok kecil maupun antar kelompok besar yang disebut “kabilah”. Bahkan, tidak jarang terjadi peperangan antar tetangga, gara-gara hal yang sepele, dan setelah diteliti ternyata akar permasalahannya bersumber dari ashabiyyah jahiliyyah itu.

Kedua, telah menimbulkan persekongkolan dalam kezhaliman yang acapkali menimbulkan lenyapnya hak-hak pihak lain dan timbulnya tindakan sewenang-wenang dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.

Ketiga, telah mengakibatkan meluasnya tindakan kriminal semisal pembunuhan, pencurian, penggelapan milik orang lain, dan teror, yang pada gilirannya akan menumbuhkan tindakan balas dendam dari pihak yang sebelumnya merasa dirugikan.

Keempat, telah menggoyahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan di kalangan warga masyarakat jazirah Arab secara keseluruhan. Hal ini pada gilirannya mengakibatkan para penguasa setempat tidak berwibawa dan tidak berdaya dalam menegakkan peraturan dan melaksanakan undang-undang. Akibat paling buruk adalah meluasnya tindakan anarki di masyarakat.

Bagaimana upaya yang dilakukan Rasulullah Saw. untuk memberantas ‘ashabiyyah jahiliyyah pada masanya, kiranya dapat dijadikan contoh dalam memberantas fanatisme kelompok pada abad 21 ini.

Rasulullah Saw. mengkampanyekan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang persamaan dan persaudaraan yang lebih luas, yaitu persaudaraan Islam (ukhuwwah islamiyyah), bahkan persaudaraan sesama  ummat manusia, tanpa membedakan warna kulit, jenis kelamin, suku bangsa dan daerah asal. Ketika seorang sahabat bernama Abu Dzar al-Ghihfari memanggil seseorang: “wahai orang hitam,” Nabi saw mendadak berubah raut mukanya seraya berkata kepada Abu Dzar: “Abu Dzar, ternyata engkau masih memiliki sifat jahiliyyah”.

Langkah-langkah lain dengan pendekatan sosial yang kongkrit pun dilakukan oleh Rasulullah dalam rangka memberantas ‘ashabiyyah ini. Misalnya, melalui pemberian zakat, shadaqah, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang dilakukan kaum muslimin yang mampu kepada kaum muslimin yang tidak mampu dan memerlukan bantuan. Dengan demikian, warga masyarakat semuanya merasa diperlakukan secara adil.

Keberhasilan Rasulullah dalam mempersatukan kabilah-kabilah Arab dalam persaudaraan seagama dan kemanusiaan merupakan nikmat yang tiada taranya dari Allah Swt, sebagaimana dalam firman-Nya:
 “Berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu kamu karena nikmat Allah menjadi orang-orang yang bersaudara, dan kamu pernah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Dengan demikian, kaum muslimin menjadi umat yang bersatu dan bukan saja pandai memberi perlindungan kepada sesama muslim, tetapi juga kepada non-muslim yang ingin bekerja sama dengan baik dengan mereka, seperti dalam sabda Rasulullah Saw.:
 “Kaum Muslimin sama antara seorang dengan yang lain dan bahkan mereka memberikan perlindungan keamanan kepada pihak non Muslim sekalipun. Kaum Muslimin itu adalah merupakan satu barisan yang kokoh dalam menghadapi pihak lain”.

Karena memiliki kelebihan seperti itu, maka Allah memuji ummat Islam dalam firman-Nya:
 “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”.

Demikianlah, ashabiyyah jahiliyyah yang sempat meluas pada zaman jahiliyyah dan awal Islam telah berhasil dikikis habis oleh Rasulullah saw. 14 abad yang lalu. Kini, ‘ashabiyyah ini  muncul kembali pada millenium II dewasa ini di banyak tempat, di kota dan di desa, di kalangan masyarakat muslim maupun bukan muslim. Dengan berkaca kepada apa yang telah dilakuan oleh Rasulullah Saw. bersama sahabatnya dahulu dalam menanggulangi wabah fanatisme kelompok tersebut, mari kita bersama-sama menanggulangi penyakit sosial ini. Semoga kita semua diberi kekuatan lahir batin oleh Allah Swt.  dalam upaya menciptakan masyarakat yang dipenuhi semangat ukhuwwah Islamiyah yang mampu membuat seluruh kaum Muslimin menjadi satu keluarga besar yang kokoh, kuat, dan penuh toleransi pula terhadap umat lain.  Barakallahu li wa lakum. Amin ya rabbal ‘alamin.

Sumber :
Disunting dari Buletin Jum'at Masjid Agung At-tin Vol. 101, yang ditulis oleh Prof. Dr. HD. Hidayat.

Mengenal Allah dengan benar


Bagaimana mengenal Allah dengan benar?
Ada dua jalan untuk rnengenal Allah SWT:
1.         Mengenal Allah lewat akal
Akal adalah salah satu sarana untuk mengenal Allah. Fungsi akal adalah untuk berfikir dan merenung. Seseorang yang memperhatikan ayat-ayat Al-Qur'an akan menemukan bahwa banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menggugah akal untuk berfikir dan merenung, sehingga sampai pada hakikat kebenaran yang tidak diragukan Iagi (13:3; 16:11; 27:52).

Allah sangat mencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya dan akan memasukan mereka ke dalam neraka jahannam kelak (7:179)
·       Ayat Kauniyyah
Sesungguhnya banyak sekali fenomena-fenomena yang terdapat di mayapada ini yang menunjukan kebesaran Allah (2:164; 51:20-21; 3:190-191) :
o   Fenomena terjadinya alam
Di antara sesuatu yang wajib diterima akal adalah bahwa setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan. Begitu juga alam semesta ini, tentu ada yang menjadikannya (52:35)
o   Fenomena kehendak yang tinggi
Kalau anda memperhatikan alam ini, anda yakin menemukan bahwa semua ini sangat tersusun rapi. Hal ini menunjukan bahwa di sana pasti ada kehendak agung yang bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Pintar dan Bijaksana (67:3). Kita ambil beberapa contoh: seandainya matahari hanya mernberikan panasnya kepada bumi sebanyak setengah dari panasnya sekarang, pastilah kita membeku karena kedinginan, dan seandainya panasnya bertambah setengah pastilah kita telah menjadi abu. Seandainya rnalam lebih panjang sepuluh kali dari malam sekarang ini, tentulah matahari pada musim panas akan rnembakar seluruh tanaman di siang hari dan di malam hari seluruh tumbuhan mernbeku.
o   Fenomena kehidupan
Bila anda perhatikan makhluk yang hidup di muka bumi anda akan menemukan berbagai jenis dan bentuknya, serta berbagai macam cara hidup dan berkernbang biak (24:5; 6:38). Semua itu menunjukkan bahwa di sana ada zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizkinya dan meniupkan ruh kehidupan pada dirinya (29:20; 21:30)
Bagairnana pintarnya manusia tentu ia tidak akan dapat rnembuat makluk yang hidup dari sesuatu yang belum ada. Allah SWT rnenantang manusia untuk membuat seekor lalat, jika mereka mampu (22:73-74; 46:4)
o   Fenomena petunjuk dan llham
Ketika kita mempelajari alam semasta ini kita akan melihat suatu petunjuk yang sernpurna dan yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya. Bagaimana kita dapat membedakan argumentasi petunjuk ini? Bagaimana ia dapat terwujud? Sungguh disitu terdapat jawaban yang diberikan akal, yaitu adanya Zat yang memberi hidayah (petunjuk) (20:50).
Seorang bayi ketika dilahirkan menangis dan mencari puting susu ibunya. Siapa yang mengajarinya?
Seekor ayam betina ketika mengerami telurnya ia membolak-balikkan telurnya, agar zat makanan yang terdapat pada telur tersebut rata. Dengan demikian telur tersebut dapat menetas. Secara ilmiyah akhimya diketahui bahwa anak-anak ayam yang sedang diproses dalam telur itu mengalami pengendapan bahan makanan pada tubuhnya di bagian bawah. Jika telur tersebut tidak digerak-gerakan niscaya zat makanan yang ada di dalamnya tidak merata, dengan demikian ia tidak bisa menetas. Siapa yang mengajarkan ayam untuk berbuat demikian?
Akal yang sehat akan berpendapat bahwa di sana pasti ada yang memberi hidayah (petunjuk) dan Al-Qur’an menerangkan bahwa zat yang memberi hidayah itu adalah Allah yang menciptakan lalu memberi hidayah.
o   Fenomena pengabulan do’a
Kita sering mendengar seseorang yang ditimpa suatu musibah yang membuat hatinya hancur luluh dan putus harapan. Ia berdo’a menghadap Allah SWT, tiba-tiba musibah itu hilang. Kebahagiaanpun kembali dan datanglah kemudahan setelah kesusahan. Siapa yang mengabulkan doa?
Sudah menjadi suatu yang logis bila seorang menghadapi bahaya pasti menghadap Allah SWT dan berdo’a. Firman Allah (17:67; 10:22-23; 6:63-64). Siapa yang mengabulkan doa itu?
·       Ayat Quraniyyah
Ayat-ayat Allah yang terdapat dalam Al-Quran berupa ajaran-ajaran konsep hidup, peraturan yang lengkap adalah merupakan mu’jizat yang nyata yang menunjukan akan adanya Allah. Mu’jizat itu terdapat pada :
o   Keindahan penyampaiannya, ketinggian bahasanya dan kerapian susunan ayat-ayatnya, yang sampai kini tak seorang manusia pun yang mampu dan sanggup menandingi-Nya atau membuat walaupun satu ayat. Al-Qur'an menantang siapa yang sanggup rnendatangkan satu surat ataupun satu ayat yang semisal (2:23; 10:38,11,13; 17:88)
o   Pemberitahuan Al-Qur'an tentang hal ihwal kaum `Aad, Tsamud, Kaum Nabi Luth, tentang Maryam, Nabi Isa dll. (9:70; 14:9; 50:12-14). Semua itu datang lewat lisan seoring yang ummi -tidak bisa membaca tidak bisa menulis- tidak pernah belajar kepada seorang guru serta tidak pernah hidup di tengah masyarakat berilmu atau di lingkungan Ahli Kitab (29:48). Semua itu menunjukan bahwa Al-Qur'an datang dari Allah SWT.
o   Pemberitahuan Al-Qur'an tentang kejadian-kejadian yang akan datang, persis seperti dikatakan Al-Qur’an:
§  Pemberitahuan Al-Qur'an tentang kekalahan bangsa Persia atas bangsa Romawi (30:1-3)
§  Janji Allah kepada kaum Muslimin untuk menjadikan mereka pemimpin (khalifah) di muka bumi sebagaimana ummat sebelum mereka (24:55). Dan janji Allah itu betul-betul terjadi. Pada masa Nabi SAW kaum muslimin telah menguasai jazirah Arab. Pada massa sahabat mereka telah menguasai dan sampai ke Persia. Kemudian menguasai Romawi di Syam, Mesir dan sekitarnya.
§  Janji Allah kepada kaum muslimin dengan kemenangan pada perang Badar (8:7).
§  Janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa ia akan memasuki Masjid Haram (48:27).
§  Pemberitahuan Al-Qur'an bahwa Abu Lahab akan mati dalam keadaan musyrik.
o   Penemuan Ilmiyah yang tidak mungkin ditemukan oleh seorang ummi (tidak bisa baca tulis):
§  Pemberitahun Al-Qur'an bahwa mulanya bumi dan langit satu, kemudian terpisah dari langit (21:30)
§  Tentang asal kejadian manusia (22:5)
§  Pemberitahuan Al-Qur'an bahwa sumber rasa adalah urat syaraf yang terletak di bawah kulit (4:56)
§  Pemberitahuan Al-Qur'an tentang hampa udara bila manusia semakin tinggi naik ke langit (6:125)
§  Pemberitahuan Al-Qur'an bahwa bumi ini bundar (39:5)
o   Syari’at dan peraturan yang terkandung dalam Al-Qur'an dapat kita lihat dari beberapa segi:
§  Kelengkapan peraturan tersebut (syumul). Tidak ada situ amal perbuatanpun dan yang sekecil-kecinya sampai yang sebesar-besarnya kecuali Islam telah menerangkan hukum dan caranya (6:38; 16:89)
§  Kesesuaian di segala zaman dan ternpat. Sebab Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia sampai hari kiamat (21:107; 34:28; 7:158)
§  Kekal sampai hari kiamat. Syariat Islam adalah syari’at yang kekal sampai hari kiamat (15:9)
2. Mengenal Allah lewat rnemahami Asmaa'ul Husna
Cara kedua untuk mengenal Allah adalah dengan memahami Asma Allah yang baik (Asmaa'ul Husna)
·       Allah sebagai Rabb
Di antara ciri-ciri khusus dari kerububiyahan-Nya adalah:
o   Dia sebagai pencipta segala sesuatu (40:62; 6:102)
o   Yang memberi rizki (35:3; 11:6)
o   Yang memiliki (2:284)
o   Yang memberi manfaat dan bahaya (6:17; 35:55)
o   Yang menghidupkan dan mematikan (30:40)
o   Yang mengatur alam semesta ini
·       Allah sebagai Penguasa raya (114:2)
Di antara ciri khas yang dimiliki oleh penguasa adalah:
o   Dia sebagai pelindung (5:55; 2:257)
o   Dia sebagai penentu hukum (6:57; 12:40; 6:114)
o   Yang hendak memerintah dan melarang (7:54)
o   Yang menentukan undang-undang peraturan (42:21)
o   Yang ditaati (3:132; 3:32)
·       Allah sebagai Ilah (114:3)
Diantara sifat-sifat khusus bagi Ilah adalah Dia sebagai zat yang wajib disernbah (20:14)

Materi Dakwah.